Paroki Kristus Raja Baciro

Jl. Melati Wetan No.47, Baciro, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55225


Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan

Ditulis oleh Floren pada 27-05-2026

Thumbnail

Dalam upaya mendalami dan menghidupi arah gerak keuskupan, GKR Baciro menggelar Sosialisasi dan Konsientisasi Arah Dasar (Ardas) Ke-9 Keuskupan Agung Semarang (KAS) pada Minggu (24/5/2026). Pertemuan yang dihadiri jajaran dewan pleno dan tim pelayanan paroki ini bertujuan agar para pelayan gereja tidak hanya mengenal Ardas, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari dan kegiatan pelayanan.

Hadir sebagai narasumber, Paulus Edi Widiasta, salah satu tim sosialisasi Kevikepan Yogyakarta Timur membagikan pengalaman pelayanannya di gereja sekaligus mengajak peserta melihat Ardas bukan sekadar tema tahunan, melainkan semangat hidup yang perlu diwujudkan nyata dalam keluarga dan pelayanan.

Pada sesi pertama bertema “Bahagia Injil”, peserta diajak memahami bahwa kebahagiaan sejati tidak melulu diukur dari keadaan ekonomi, melainkan dari kedalaman relasi dengan Tuhan yang dapat dihidupi melalui refleksi. Edi menjelaskan bahwa refleksi sederhana mampu membantu umat menemukan kehadiran Tuhan dan merasakan cinta-Nya dalam pengalaman hidup sehari-hari.

“Kalau kita merasa dicintai Tuhan, kita akan punya semangat untuk terus bergerak dan melayani,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa refleksi ini dapat kita mulai dari gereja yang paling kecil, yakni keluarga. Obrolan sederhana tentang pengalaman menemukan Tuhan di tengah kehidupan sehari-hari dinilai menumbuhkan sukacita dan rasa syukur. Rasa cinta, sukacita dan syukur inilah yang memicu semangat misioner.

Memasuki sesi kedua, “Menginspirasi”, Edi menantang peserta untuk berani mengambil langkah pertama. Dimulai dari pertobatan hati dan membuang self-talk yang negatif. Menjadi minoritas di tengah masyarakat bukanlah alasan untuk merasa minder, melainkan sebuah panggilan untuk menjadi garam dan terang dunia. Langkah pertama ini juga diwujudkan lewat keberanian untuk mendengarkan kebutuhan umat dari berbagai kalangan usia, terutama generasi muda yang cara hidup menggerejanya kini telah berubah. 

Sementara itu pada sesi “Menyejahterakan”, peserta diajak melihat kesejahteraan yang berarti bertumbuh terus-menerus, baik secara personal maupun komunitas. Hal ini berkaitan dengan kesejahteraan psikologis para pelayan gereja. Budaya saling mendukung, mendengarkan, dan memberi apresiasi dinilai penting agar pelayanan dapat dijalankan dengan sukacita. Perhatian khusus juga diarahkan pada kelompok KLMTD (Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel). 

Sesi tanya jawab berlangsung hidup. Peserta mengangkat berbagai persoalan di lapangan, seperti siasat menghidupkan kembali semangat kehadiran umat dalam lingkungan, hingga tantangan merangkul OMK dalam setiap kegiatan kaum muda.

Menanggapi tantangan tersebut, Edi menegaskan pentingnya keberanian melakukan perubahan pendekatan dalam pelayanan untuk memastikan anggotanya menemukan kebahagiaan dalam pelayanan itu sendiri sebelum mereka terjun ke umat yang lebih luas.

Di penghujung acara, Edi Widiasta menyampaikan pesan penutup yang kuat. Kesuksesan Ardas ke-9 lahir dari keberanian mengambil langkah pertama yang paling sederhana di dalam rumah, seperti doa bersama, saling mengucapkan terima kasih, meminta tolong, dan menemukan Tuhan dalam berbagai peristiwa sehari-hari. Hal ini diyakini menjadi langkah kecil yang membawa dampak besar bagi gereja.

Dari ruang pertemuan itu, semangat Ardas tidak hanya dibicarakan sebagai program pastoral, tetapi juga dihidupi sebagai ajakan untuk menghadirkan Gereja yang semakin bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan di tengah kehidupan umat.