Paroki Kristus Raja Baciro
Jl. Melati Wetan No.47, Baciro, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55225
Kasih yang Tak Membalas Kejahatan dengan Kejahatan
Ditulis oleh Floren pada 19-06-2026
Sebagai perayaan Tahun Baru Jawa, malam 1 Suro selalu menghadirkan suasana yang khas: hening, penuh permenungan, dan sarat makna spiritual. Nuansa itulah yang terasa di GKR Baciro pada Misa Inkulturasi Jawa, Senin, 15 Juni 2026.
Malam itu, nuansa Jawa langsung terasa sejak awal perayaan. Gerak gemulai para penari membuka perayaan Ekaristi penuh khidmat itu. Diiringi alunan gamelan yang mengalun syahdu, para penari mengiringi perarakan masuk menuju altar. Umat yang hadir pun turut memperkuat suasana dengan balutan busana bernuansa Jawa. Dengan khusyuk mereka mengikuti setiap rangkaian perayaan, sementara doa-doa dan puji-pujian berbahasa Jawa dilantunkan penuh penghayatan.
Puncak perenungan malam itu tertuang dalam homili yang disampaikan oleh Rm. Andreas Novian Ardi Prihatmoko, Pr. Ia mengajak semua umat yang hadir untuk merenungkan kisah Injil Matius 5:38-42 tentang kasih yang tetap mengampuni bahkan di tengah perlakuan yang menyakitkan. Melalui sabda-Nya, “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu,” Tuhan mengajarkan manusia untuk menghidupi kasih tanpa syarat, bahkan saat harus berhadapan dengan mereka yang membawa keburukan.
"Tuhan melalui Injil hari ini ingin mengajarkan kepada kita bahwa apa pun perlakuan buruk yang kamu terima dari orang lain, jangan pernah kamu balas dengan perlakuan yang sama buruknya. Kita diajak untuk mengasihi semua orang, bahkan mereka yang berlaku buruk pada kita," ujar Romo Aan.
Bagi Romo Aan, pesan Yesus tentang kasih ini memiliki keselarasan dengan nilai-nilai luhur dalam falsafah Jawa. Salah satu yang ia angkat adalah filosofi yang dikenal melalui syair karya Raden Mas Panji Sosrokartono: “Sugih tanpa bondo (kaya tanpa harta), digdaya tanpa aji (kekuatan tanpa pusaka), nglurug tanpa bala (bertempur tanpa pasukan), dan menang tanpa ngasorake (menang tanpa merendahkan).” Ungkapan itu menggambarkan kekuatan sejati yang tidak bersumber dari kekayaan, kekuasaan, atau dominasi atas orang lain.
Kemenangan yang hakiki justru diraih tanpa menjatuhkan sesama. Romo Aan menjelaskan bahwa falsafah ini bisa lahir karena orang Jawa yang dekat dengan Sang Pencipta. Mereka menghidupi prinsip “Trima mawi pasrah”, yang berarti menerima dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.
“Tidak ada yang ditakuti selain Tuhan. Bertemu dengan manusia seperti apa pun akan selalu dihadapi, karena hanya takut kepada Tuhan,” tegas Romo Aan.
Dari sikap pasrah kepada Tuhan itulah lahir keberanian untuk menghadapi berbagai tantangan hidup tanpa kehilangan kasih. Ketika keburukan datang, umat diajak untuk tegap berdiri tanpa rasa gentar. Bukan untuk membalas dengan senjata yang sama, melainkan menghadapinya dengan keyakinan penuh bahwa Tuhan selalu berjalan bersama mereka.
Melalui perayaan Misa Inkulturasi Jawa pada malam 1 Suro ini, umat diajak melihat bahwa nilai-nilai budaya Jawa yang luhur dapat menjadi jembatan untuk semakin memahami pesan Injil. Kasih yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, kerendahan hati dalam kemenangan, serta kepasrahan kepada Tuhan menjadi jalan untuk menghadirkan damai di tengah kehidupan sehari-hari.
Di tengah alunan gamelan yang kembali mengiringi penutupan perayaan, umat pulang membawa pengingat bahwa kekuatan seorang beriman tidak terletak pada kemampuan membalas, melainkan pada keberanian mengasihi. Sebab, seperti diajarkan Kristus dan diwariskan dalam kearifan Jawa, kemenangan yang sejati adalah kemenangan yang tidak merendahkan siapa pun.