Paroki Kristus Raja Baciro
Jl. Melati Wetan No.47, Baciro, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55225
Sahur Lintas Iman di Baciro: Hangatnya Persaudaraan di Tengah Dinginnya Hujan Dini Hari
Ditulis oleh Floren pada 06-03-2026
Dini hari baru saja beranjak ketika jarum jam menunjuk pukul 01.15 WIB, Senin (02/03/2026). Hujan rintik-rintik membasahi pelataran Gereja Katolik Kristus Raja Baciro Yogyakarta. Namun, cuaca tak menyurutkan langkah warga yang mulai berdatangan. Satu per satu, dengan payung dan jas hujan yang sederhana, mereka menyusuri aula gereja untuk menghadiri sebuah peristiwa yang tak biasa: Sahur Keliling Lintas Iman.
Sekitar 300 orang hadir dini hari itu. Mereka terdiri dari warga sekitar Baciro, kaum duafa, penyandang disabilitas, serta para pemuka agama. Selain itu, ada pula tokoh penting yang hadir seperti dr. Hasto Wardoyo selaku Wali Kota Yogyakarta. Di tengah suasana hening sebelum fajar, gereja yang biasanya identik dengan adanya misa, kali ini menjadi ruang persaudaraan untuk menyambut sahur ramadhan.
Aparat kepolisian, Paspamres, TNI, dan Satgas juga mendukung dalam acara ini dengan berjaga di sejumlah titik untuk memastikan acara berlangsung aman dan tertib. Kehadiran mereka justru menambah rasa nyaman di tengah suasana kebersamaan yang hangat.
Acara diawali dengan penampilan hadroh yang menggema lembut di antara rintik hujan. Tak lama berselang, koor para suster turut mempersembahkan nyanyian yang meneduhkan. Perpaduan dua ekspresi iman yang berbeda itu menyatu dalam harmoni sebuah simbol bahwa perbedaan tak menghalangi persaudaraan.
Romo Andreas Novian Ardhi Prihatmoko, selaku pastor paroki Gereja Kristus Raja Baciro, menegaskan bahwa pihak gereja hanya menyediakan tempat untuk terlaksananya Sahur Keliling Bersama Lintas Iman “Yang punya acara sahur ini Bu Sinta, maka kami menyediakan tempat,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa Ibu Hj. Dr (H.C) DRA. Sinta Nuriyah Wahid, M. HUM memiliki keprihatinan mendalam terhadap mereka yang tak mampu menikmati sahur dengan layak, bahkan ada yang harus memulai puasa tanpa sahur.
Karena itulah, Bu Sinta menginisiasi program buka dan sahur keliling, dengan fokus utama pada sahur bersama. “Buka bersama sudah banyak yang melakukan dan relatif lebih mudah dari segi persiapan dan waktu. Tetapi sahur bersama jarang dilakukan. Tidak banyak orang yang mau bangun dini hari, bersusah payah menyiapkan banyak hal,” lanjut romo Andreas Novian Ardhi Prihatmoko.
Mengapa Baciro? Menurutnya, gereja yg meminta langsung kepada Ibu Hj. Dr (H.C) DRA. Sinta Nuriyah Wahid, M. HUM karena semangat kemanusiaan dan toleransi yang pernah diinisiasi oleh Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur, dinilai masih hidup dalam gerakan yang dilakukan oleh Ibu Hj. Dr (H.C) DRA. Sinta Nuriyah Wahid, M. HUM. “Semangat memanusiakan manusia itu yang kami lihat. Sahur ini memang ditujukan untuk kaum duafa, mereka yang terpinggirkan, yang tidak terperhatikan. Bahkan juga lintas iman,” katanya.
Bagi gereja, momen ini bukan sekadar menyediakan ruang. Ini adalah inspirasi. “Kami berharap semangat kemanusiaan yang dihadirkan Bu Sinta juga menginspirasi gereja untuk semakin memajukan semangat toleransi. Gereja hadir bukan hanya untuk umat Katolik, tidak eksklusif, tetapi untuk semua orang di sekitar, yang difabel, yang menderita, yang tersingkir,” tambahnya.
Suster Andrea dan Suster Paulista juga mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya. “Kita sebagai warna Indonesia, berbeda budaya dan agama, tetapi bisa hadir bersama mendukung saudara kita umat muslim. Ini momen luar biasa. Sahur lintas iman bersama Bu Sinta adalah pengalaman yang sangat berharga,” tuturnya. Ia berharap semangat ini terus dihidupkan dan dilanjutkan generasi berikutnya demi bangsa dan negara.
Hal senada disampaikan salah satu warga penyandang disabilitas yang hadir. Ia menyebut acara tersebut sangat inspiratif dan membangkitkan semangat gotong royong serta persatuan, khususnya bagi masyarakat Indonesia di Yogyakarta. “Terima kasih kepada pihak gereja yang sudah bersedia menjadi tuan rumah. Semoga apa yang dilakukan ini menjadi berkat bagi banyak orang,” ujarnya.
Sementara itu, Ibu Hj. Dr (H.C) DRA. Sinta Nuriyah Wahid, M. HUM. menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah mengajak umat muslim menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya, terutama kaum duafa. Di sisi lain, ia ingin membangun kembali rasa persatuan dan kesatuan bangsa melalui kegiatan lintas iman. “Saya ingin kita saling menghormati, saling menghargai, saling menolong. Kita semua bersaudara,” katanya. Ia berharap rakyat Indonesia dapat hidup rukun dan damai, saling memberi harapan, serta bersama-sama membangun masa depan bangsa.
Di tengah hujan dini hari dan dinginnya udara Kota Yogyakarta, sahur lintas iman di Gereja Katolik Kristus Raja Baciro menjadi lebih dari sekadar santap sebelum fajar. Ia menjelma menjadi peristiwa simbolik bahwa toleransi tak hanya diucapkan, tetapi dihidupi. Bahwa persaudaraan tak mengenal sekat agama. Dan bahwa di kota kecil seperti Yogyakarta, Indonesia yang rukun masih terus dirawat, bahkan sejak pukul satu pagi.
~ Monic