Paroki Kristus Raja Baciro

Jl. Melati Wetan No.47, Baciro, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55225


Di Antara Perbedaan, Ada Doa yang Menyatukan

Ditulis oleh Kanes pada 28-01-2026

Thumbnail

21 Januari 2026, malam itu Gereja Katolik Kristus Raja Baciro tidak hanya dipenuhi oleh umatnya sendiri. Dari berbagai gereja dan denominasi, umat Kristen datang, duduk berdampingan, dan mengambil bagian dalam satu ibadat. Pekan Doa Sedunia kembali dirayakan, sebuah tradisi panjang yang terus menemukan maknanya di setiap zaman. Pekan Doa Sedunia merupakan ibadat doa bersama umat Kristen lintas denominasi yang telah dimulai sejak tahun 1908. Pekan Doa Sedunia dirayakan setiap tahun sebagai wujud komitmen gereja-gereja untuk mendoakan persatuan, membangun dialog, serta merawat semangat kebersamaan di tengah perbedaan tradisi dan tata ibadah.

Nyanyian “Karena Aku Kau Cinta” mengawali ibadat, diikuti lagu “Hidup Ini Adalah Kesempatan”. Lagu-lagu itu tidak sekadar mengisi liturgi, tetapi membuka ruang dimana perbedaan cara beribadah perlahan mereda. Dalam doa tobat yang didoakan bersama, umat diingatkan bahwa dari timur hingga barat, doa orang-orang Kristiani naik kepada Tuhan yang satu.

Mengangkat tema “Satu Tubuh dan Satu Roh” (Efesus 4: 4), Pekan Doa Sedunia mengajak umat untuk kembali melihat jati dirnya sebagai bagian dari Tubuh Kristus. Berbeda, tetapi tidak terpisah. Ketua pelaksana, Roland Modestus Jemuru, menyebut perayaan ini sebgai momen yang istimewa. “Rasanya berbahagia bisa bertemu dan berdoa bersama saudara-saudara dari gereja lain. Kita membangun komitmen bersama, bukan hanya dalam doa, tapi juga dalam tindakan,” ujarnya. Baginya, iman perlu diwujudkan secara konkret, salah satunya melalui kegiatan sosial yang menjadi rangkaian Pekan Doa Sedunia.

Suasana semakin hangat ketika homili disampaikan secara bergantian oleh Romo Andreas Novian Ardi Prihatmoko dan Pdt. Seno Adhi Nugroho. Diselingi canda ringan, pesan yang disampaikan justru terasa dekat, bahwa kesatuan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk saling memahami dan berbelarasa.

Bagi Suster Giashinta Saragih, SFD, perayaan ini menjadi pengingat akan panggilan setiap orang beriman. “Kita membawa Kristus ke mana pun kita pergi, lewat perkataan, tindakan, dan pelayanan. Cara kita beribadah boleh berbeda, tapi yang kita wartakan tetap sama,” tuturnya. Makna doa sebagai pemersatu juga ditegaskan Romo Martinus Joko Lelono, PR. Ia melihat doa bersama sebagai cara untuk mengurangi jarak yang sering kali tidak kasatmata. “Bukan jarak fisik, tapi jarak perasaan. Dalam doa, kita belajar melihat satu sama lain sebagai saudara,” katanya. Sementara itu, Pendeta Purwantoro Kurniawan menekankan bahwa perbedaan gereja adalah kenyataan yang tidak perlu ditakuti. “Kita satu tubuh dengan Kristus sebagai kepala. Justru karena berbeda, kita bisa saling melengkapi,” ujarnya.

Pekan Doa Sedunia mungkin hanya berlangsung beberapa hari dalam setahun. Namun, perjumpaan yang terjadi di dalamnya meninggalkan jejak yang lebih panjang. Di antara perbedaan tradisi dan tata ibadah, umat kembali diingatkan bahwa ada satu doa yang sama, doa yang memanggil mereka untuk tetap berjalan bersama sebagai saudara.

Pada akhirnya, Pekan Doa Sedunia tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga pengingat akan panggilan iman yang terus bejalan. Di tengah perbedaan tradisi dan cara beribadah, umat diajak kembali pada dasar yang sama yaitu Kristus sebagai pusat. Sebagaimana tertulis dalam Injil hari itu, "Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang" (Yohanes 12: 36). Dari doa yang sama, umat diajak untuk terus berjalan sebagai anak-anak terang, hidup dalam iman, persaudaraan, dan kesaksian nyata di tengah dunia. Biarlah doa yang menyatukan malam itu terus bergema, mengantar umat untuk saling memahami dan berjalan sebagai saudara. Kiranya semangat yang lahir dari doa bersama ini menemukan kelanjutannya dalam sikap, relasi, dan tidakan sehari-hari.