Paroki Kristus Raja Baciro

Jl. Melati Wetan No.47, Baciro, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55225


Menemukan Potensi dan Menebar Sukacita dalam Hari Anak Misioner ke-183

Ditulis oleh Floren pada 18-01-2026

Thumbnail

YOGYAKARTA, 11 Januari 2026 – Awan gelap dan derasnya hujan menyelimuti Yogyakarta pagi itu. Udara dingin yang menusuk dan rintik tajam yang menyapu aspal seolah ingin menguji semangat yang tengah berkobar. Namun, cuaca yang kelabu tak mampu menyurutkan semangat ratusan anak yang datang berombongan, menembus lebatnya hujan menuju SMP Pangudi Luhur Yogyakarta. Begitu pintu-pintu bus terbuka, tawa ceria dan derap langkah antusias memecah keheningan pagi, menjadi bukti hangatnya sukacita misioner tak sanggup dipadamkan oleh dinginnya rintik hujan.

Di balik tirai hujan, gedung sekolah itu bertransformasi menjadi ruang kreasi penuh kehangatan. Sorak sorai hingga nyanyian ratusan anak menggema di setiap sudut gedung, menjadi penanda simfoni perayaan Hari Anak Misioner (HAM) ke-183.  Momen kebersamaan ini merupakan inisiasi dari Kevikepan Yogyakarta Timur yang menjadi ruang perjumpaan dan sukacita bagi anak-anak dan remaja sekevikepan.

Gema sukacita yang merupakan tradisi Gereja Katolik sedunia ini dikemas oleh Kevikepan Yogyakarta Timur menjadi sebuah perjumpaan nyata bagi 18 paroki dan 2 gereja wilayah. Melalui tema “Anak Misioner : Mengenal diri, Berpotensi, dan Siap Bermisi”, Petra Adventia Pranazasi Jayaputri, selaku Ketua Panitia, menegaskan bahwa acara tahunan ini dirancang sebagai wadah di mana anak-anak bukan hanya bermain, tetapi juga belajar mengenal potensi dirinya. “Kita mau menggali anak-anak di sini supaya mereka mengenal diri melalui permainan-permainan yang ada, karena mereka di sini bukan hanya bermain, tetapi juga belajar. Saat pulang, mereka bisa membawa hasil karya dan pengalaman,” jelas Petra.

Langkah awal perjumpaan kasih hari itu dimulai dengan khidmat melalui Perayaan Ekaristi bersama yang menjadi landasan rohani sekaligus pengutusan bagi semua peserta. Dari meja altar inilah semangat misi hari itu dinyalakan. Usai Perayaan Ekaristi, suasana perlahan berubah. Kelompok-kelompok kecil mulai terbentuk, warna-warni aktivitas mengisi setiap sudut. Di tengah hujan yang belum reda, anak-anak justru tampak semakin bersemangat memasuki setiap rangkaian kegiatan yang telah disiapkan panitia.

Kevikepan mengemas perayaan ini dalam lima pos eksplorasi. Ada yang tenggelam dalam warna dan kuas di pos melukis, ada pula yang berpikir cepat dan bekerja sama menjawab pertanyaan dalam kuis cerdas cermat Alkitab. Di pos susun kata dan permainan lainnya, tawa dan diskusi kecil terdengar bersahutan. Lewat permainan dan aktivitas yang mereka jalani, anak-anak belajar dengan cara yang paling mereka kenal: melalui tawa, kebersamaan, dan pengalaman yang mereka rasakan sendiri. 

“Seru! Paling suka waktu main cerdas cermat Alkitab, bisa kerja sama dengan teman-teman biar bisa menjawab dan mendapatkan poinnya,” seru Windya, peserta dari Paroki Kalasan. Bagi Windya dan kawan-kawannya, Manggar dan Intan, ada kepuasan tersendiri yang mereka rasakan saat berhasil menyelesaikan tantangan dan berbaur dengan teman-teman baru. “Senang bisa mendapat teman-teman baru,” ujar Intan. Antusiasme itu tampak jelas sepanjang kegiatan, di mana belajar dan bermain menyatu.

Sukacita tidak hanya terlihat dari wajah anak-anak peserta, tetapi juga dirasakan oleh para volunteer yang terlibat. Marta Iga Alfredasiwi, yang bertugas sebagai LO Pos Orang Majus dan photobooth, dengan penuh semangat mengarahkan anak-anak setiap paroki untuk foto bersama sekaligus menuliskan kesan pesan mereka. 

“Jujur senang banget, karena ternyata sangat happy. Awalnya takut, bisa nggak ngadepin anak-anak yang sangat banyak ini, tapi ternyata seru banget, anak-anaknya juga seru dan sangat antusias,” ungkapnya. Marta pun berpesan agar anak-anak terus mengikuti kegiatan positif, dan para volunteer dapat selalu semangat melayani dengan hati yang bahagia.

Semangat melayani juga tampak dalam diri Angelica Vania Putri, salah satu tim animasi. Tahun lalu ia masih berdiri sebagai peserta, namun hari ini ia dipercaya memandu gerakan 12 lagu yang telah ia latih sejak Juli silam. “Aku senang banget, akhirnya bisa rasain jadi tim animasi. Anak-anak juga sangat excited!” ujarnya penuh semangat.

Keberhasilan perayaan ini adalah buah koordinasi Tim pendamping PIA dan PIR se-Paroki se-Rayon Kota Yogyakarta serta dukungan para volunteer. Hujan yang turun hampir sepanjang kegiatan menjadi tantangan tersendiri bagi panitia. Namun, komitmen panitia tidak luntur demi memastikan setiap anak pulang dengan kesadaran bahwa mereka adalah bagian penting dari misi Gereja.

Ketika matahari mulai condong ke barat dan hujan perlahan mereda, perayaan pun ditutup dengan nyanyian dan sorak sorai seluruh peserta dan pelayan yang telah bahu-membahu menyukseskan hari itu. Anak-anak meninggalkan kompleks sekolah bukan hanya dengan karya di tangan, tetapi juga dengan pengalaman di hati. Perayaan HAM ke-183 ini menjadi langkah awal mempersiapkan anak-anak yang siap bermisi di mana pun mereka berada.

Setiap derap langkah anak keluar dari gerbang sekolah dengan hati yang penuh sukacita, membawa sejuta kenangan dan janji kecil untuk menjadi misionaris kecil yang lebih mengenal potensi diri masing-masing dan siap membawa terang dan sukacita ke manapun kaki mereka melangkah pergi.