Paroki Kristus Raja Baciro

Jl. Melati Wetan No.47, Baciro, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55225


Membawa Tuhan dalam Setiap Kehadiran

Ditulis oleh Floren pada 17-05-2026

Thumbnail

Tepat 40 hari setelah fajar kebangkitan-Nya, telah tiba saatnya bagi Yesus Kristus untuk kembali naik ke Surga. Bagi umat Katolik, peristiwa Kenaikan Tuhan menjadi awal dari sebuah perutusan agung. Makna iman inilah yang menjiwai rasa syukur umat Gereja Kristus Raja Baciro saat merayakan Kenaikan Yesus Kristus pada 14 Mei 2026.

Pagi itu, cahaya lembut matahari yang menyinari sudut-sudut gereja menciptakan suasana hangat penuh sukacita. Kursi gereja dipenuhi umat yang bersiap menyambut perayaan suci. Lantunan lagu pujian menghidupkan suasana di dalam rumah Tuhan.

Misa yang dipimpin Rm. Andreas Novian Ardi Prihatmoko, Pr. ini berlangsung dengan khidmat namun tetap dibalut sukacita yang mendalam. 

Dalam homilinya, Romo yang kerap disapa Rm. Aan ini mengajak umat merenungkan kisah para rasul dalam bacaan pertama. Dua orang berpakaian putih yang mengingatkan para rasul untuk melaksanakan tugas perutusan mereka sebagai murid-murid Kristus menjadi penegasan bahwa hidup sebagai murid Kristus tidak berhenti pada doa semata. Iman perlu diwujudkan melalui usaha dan aksi nyata. 

“Berdoa itu menyenangkan. Tetapi kita harus ingat, hidup kita tidak hanya berdoa, karena kita manusia hidup di dunia, kita harus menghadapi dunia nyata,” ungkapnya. 

Beliau menekankan bahwa doa seharusnya menjadi motivasi dasar agar hidup kita menjadi lebih baik. Sebab, hidup kita di dunia ini bukanlah untuk diri sendiri. 

“Kita berdoa untuk bersama dengan Tuhan, membuat aksi nyata,” pungkasnya. 

Merujuk pada perenungan injil Matius 28:16-20 tentang perutusan para rasul, Rm. Aan tidak menampik bahwa saat berdoa, kita sering kali merasakan ketenangan, aman, dan kenyamanan. Namun, berdoa saja tidak cukup jika berhenti pada kata-kata. Melainkan doa-doa itu harus kita bawa dalam aksi nyata. 

Bagi Rm. Aan, dunia saat ini membutuhkan lebih dari sekadar ucapan. Banyak orang di sekitar yang menantikan kehadiran nyata, perhatian, dan kepedulian dari sesamanya. Karena itu, setiap orang beriman dipanggil untuk menghadirkan Tuhan melalui tindakan sederhana yang dilakukan dengan kasih.

“Dunia membutuhkan kita, ada orang-orang yang membutuhkan tindakan nyata kita. Ada banyak hal di luar sana yang membutuhkan kita hadir membawa Tuhan dalam setiap kehadiran,” tuturnya.

Di penghujung homili, Rm. Aan kembali meneguhkan umat agar tidak takut ketika menghadapi kesulitan dalam menjalankan panggilan tersebut. Umat tidak berjalan sendirian. Ada sebuah janji yang ditinggalkan-Nya sebelum naik ke Surga, sebuah pegangan iman yang harus selalu dipegang teguh; Tuhan selalu hadir dan menyertai kita sampai akhir zaman.

Perayaan Kenaikan Tuhan akhirnya tidak hanya berhenti dalam gereja, melainkan menjadi pengingat bagi setiap umat untuk kembali melihat makna kehadiran mereka di tengah sesama. Umat diajak melangkah keluar membawa terang Tuhan dalam keseharian, melalui perhatian kecil, uluran tangan, serta tindakan kasih yang sederhana namun berarti bagi mereka yang membutuhkan.