Diskusi Seputar Permasalahan Organis Gereja dalam Sarasehan Musik di Gereja Kristus Raja Baciro, Yogyakarta

Kehidupan dan pelaksanaan kegiatan liturgis melibatkan pelayanan dari banyak pihak. Saat pelaksanaan misa ekaristi mingguan di dalam gereja misalnya; selain imam (romo), ada banyak tim pendukung peribadatan yang terlibat – baik mereka yang terlibat secara langsung saat peribadatan dilaksanakan, maupun mereka yang terlibat dalam persiapan peribadatan. Prodiakon, misdinar, lektor, pemazmur, paduan suara dan dirigen, organis, hingga tim tata laksana pada umumnya berperan saat peribadatan berlangsung; dan peran koster, tim paramenta, dan tim dekorasi altar vital sebelum peribadatan dimulai.

Selain individu-individu tersebut, seringkali musik turut membangun dan berperan dalam suasana peribadatan katolik. Sebagaimana kualitas bernyanyi paduan suara turut membangun suasana liturgi, pun demikian dengan iringan musik yang dimainkan oleh organis. Pembawaan dan penjiwaan lagu yang baik oleh organis mendukung suasana ibadat menjadi lebih hidup.

Menyadari peran dan kepentingan ini, sekaligus menyambut ulang tahun Paroki Baciro yang ke-60, Tim Pelayanan Musik–Bidang Liturgi dan Peribadatan Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta mengadakan Sarasehan Organis. Diadakan secara luring di Panti Paroki Gereja Baciro dan disiarkan daring dari kanal multimedia Gereja Baciro, melalui platform Youtube*, kegiatan ini dibagi menjadi dua bagian yang diadakan pada hari yang berbeda. Sarasehan Organis yang pertama diadakan pada Selasa, 7 Maret 2023, 18.00 WIB, dengan narasumber Romo Simon Atas Wahyudi, Pr. Sarasehan ke dua diadakan pada Jumat, 31 Maret 2023, 18.00 WIB, dengan narasumber Romo Karl-Edmund Prier, SJ. Tidak saja diperuntukkan bagi pembelajar baru, sarasehan ini juga ditujukan untuk para organis yang berada di tingkat mahir dan bagi semua pemerhati (iringan) musik gereja. Pelaksanaan Sarasehan ini mengetengahkan diskusi materi belajar yang sekaligus dapat menjadi penyegar kembali akan beberapa faktor penting dalam permainan organ, khususnya dalam konteks liturgis. Baik Sarasehan Organis I maupun II dihadiri oleh lebih kurang enam puluh organis dan siswa kursus organ, orang tua siswa, juga pemerhati musik gereja dari beberapa paroki di sekitar Baciro -seperti Pringwulung, Babarsari, Kotabaru, Pringgolayan, dan Pugeran-. Dari komentar di Youtube saat live streaming, tampak banyak peserta dari luar Yogyakarta juga mengikuti kedua Sarasehan ini secara daring.

Tema Sarasehan Organis pertama ialah diskusi tentang kepentingan organis dalam kerangka berliturgi. Romo Atas, yang saat ini menjadi Pastor Kepala Gereja Santo Petrus Sambiroto, Semarang, dan aktif mengajar Musik Liturgi di Sekolah Tinggi Pastoral Kataketik Santo Fransiskus Asisi, Semarang, mengetengahkan poin-poin standar dan pembelajaran minimum untuk menjadi organis gereja. Tidak hanya dengan penjelasan lisan, Romo Atas juga mengajak peserta untuk praktik langsung dengan beberapa keyboard dan organ electone yang ada di ruang acara. Peserta diberi kesempatan untuk memainkan beberapa lagu dengan akor mayor dan minor. Diskusi dilanjutkan dengan pemaparan singkat tentang keberadaan lagu-lagu Gregorian di dalam lagu ibadat katolik di Indonesia. Sarasehan diakhiri dengan penutup dan berkat doa oleh Romo Yohanes Sigit Heriyanto, Pr. yang mewakili Gereja Baciro.

 

Romo Simon Atas Wahyudi, Pr. dan Romo Yohanes Sigit Heriyanto, Pr. berfoto bersama sebagian peserta dan panitia Sarasehan Organis I (dok. Andreas Rahmawan K. P.)
Romo Simon Atas Wahyudi, Pr. dan Romo Yohanes Sigit Heriyanto, Pr. berfoto bersama sebagian peserta dan panitia Sarasehan Organis I (dok. Andreas Rahmawan K. P.)

 

Dalam Sarasehan Organis bagian II, Romo Prier mengetengahkan diskusi tentang beberapa permasalahan praktis organis. Empat materi terkait teknik dasar bermain organ yang baik disampaikan oleh Romo Prier, meliputi; 1) pemilihan intro, 2) penjiwaan, 3) frasering (phrasing), dan 4) anslag (scale). Seperti pada Sarasehan sebelumnya, bersamaan dengan sesi tanya-jawab, peserta juga diajak untuk langsung bermain organ electone, mempraktikkan langsung apa yang telah dijelaskan di awal acara. Pada sesi istirahat pendek, ditampilkan tari Manggalatama. Tari Manggalatama merupakan sebuah tari klasik dari Kadipaten Pura Pakualaman Yogyakarta, diciptakan oleh Paku Alam IX, yang menggambarkan seorang prajurit yang sedang berlatih ketangkasan dalam berperang dengan menggunakan properti pedang dan perisai (tameng). Mewakili Gereja Baciro, Romo Antonius Wahadi Martaatmaja, Pr. menutup sarasehan dengan pidato singkat dan berkat doa penutup.

 

Salah satu peserta diskusi yang sedang bertanya kepada narasumber (dok. Antonius H. Isprastowo)
Salah satu peserta diskusi yang sedang bertanya kepada narasumber (dok. Antonius H. Isprastowo)

 

Tari Manggalatama yang ditampilkan saat sesi istirahat dalam Sarasehan Organis II (dok. Antonius H. Isprastowo)
Tari Manggalatama yang ditampilkan saat sesi istirahat dalam Sarasehan Organis II (dok. Antonius H. Isprastowo)

 

Romo Karl-Edmund Prier, SJ dan Romo Antonius Wahadi Martaatmaja, Pr. berfoto bersama sebagian peserta dan panitia Sarasehan Organis II (dok. Antonius Hari Isprastowo)
Romo Karl-Edmund Prier, SJ dan Romo Antonius Wahadi Martaatmaja, Pr. berfoto bersama sebagian peserta dan panitia Sarasehan Organis II (dok. Antonius H. Isprastowo)

 

Selain materi dan diskusi yang diketengahkan dalam sarasehan, kedua narasumber melihat fenomena yang sama dewasa ini; bahwa pembelajar organ -tidak jarang orang tua mereka- ingin secara cepat dan segera bisa bermain organ untuk mengiringi misa di gereja. Keinginan untuk bisa menjadi organis gereja ini tentu saja baik dan patut didukung; namun ketergesa-gesaan yang menjadi masalah. Banyak ditemui anggapan bahwa menjadi organis yang paling penting bisa membaca not angka, juga menggunakan akor mayor dan minor untuk mengiringi. Namun, pada kenyataannya, untuk menjadi organis yang baik diperlukan pemahaman-pemahaman bermain musik yang baik; tidak saja teknik bermain dan penerapan akor atau nada khusus untuk jenis atau gaya lagu tertentu (misal lagu-lagu Gregorian dan inkulturasi), namun juga penjiwaan lagu, dan kemampuan untuk mampu menguasai diri sendiri -misal menghadapi khalayak ramai, menghadapi kesalahan sendiri saat bermain, merasakan volume suara organ yang tepat untuk mengiringi, dan sebagainya-.

Practice makes perfect”; kalimat ini tentu sudah tidak asing di telinga. Banyak berlatih akan membuat seseorang semakin mahir. Demikian pula untuk menjadi organis dan dapat mengiringi dengan baik. Baik Romo Atas maupun Romo Prier menekankan bahwa (frekuensi) banyak latihan merupakan salah satu kunci utama menjadi organis yang baik. Latihan yang dimaksud juga tidak terbatas saat di tempat kursus, bertemu dengan guru atau teman organis lain, tetapi juga latihan secara mandiri (di rumah).

 

*Sarasehan Organis I dan II dapat dilihat secara daring melalui kanal Youtube milik Gereja Kristus Raja Baciro: Crembo Recent, pranala: https://www.youtube.com/live/pOwHGr5PFek?feature=share (Sarasehan Organis bagian I),
dan https://www.youtube.com/live/rVqHaEWx_JY?feature=share (Sarasehan Organis bagian II)

 

Penulis: Maria Satya Rani (Tim Pelayanan Musik–Bidang Liturgi dan Peribadatan, Gereja Kristus Raja Baciro, Yogyakarta)

Dokumentasi: Andreas Rahmawan K. P., Antonius Hari Isprastowo

 

 

(Artikel asli diterbitkan di ‘Warta Musik’, Media Komunikasi Dwi Bulanan Pusat Musik Liturgi Yogyakarta, Edisi 04/2023, hal. 121-122)

Sampul Majalah Warta Musik - Pusat Musik Liturgi Yogyakarta, edisi 04/2023
Sampul Majalah Warta Musik – Pusat Musik Liturgi Yogyakarta, edisi 04/2023